Panen Sorgum di Plumbon, Pemkab Cirebon Dorong Komoditas Tahan Kekeringan
CIREBON, (ETNOLOGIMEDIA)- Pemkab Cirebon mulai mendorong pengembangan tanaman sorgum sebagai alternatif diversifikasi pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani.
Upaya tersebut ditandai dengan kegiatan panen sorgum di lahan Satuan Pelayanan UPTD Balai Benih Palawija Plumbon, yang melibatkan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, serta mitra industri.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, mengatakan minat petani untuk menanam sorgum sangat bergantung pada kepastian pasar hasil panen.
“Bagi petani yang penting ada yang membeli hasilnya dan harganya menguntungkan. Kalau pemasarannya jelas, petani pasti mau menanam,” kata Deni, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, sorgum memiliki keunggulan dibanding tanaman pangan lainnya. Karena tidak membutuhkan banyak air sehingga dapat tumbuh di lahan kering maupun lahan marginal.
Dengan karakter tersebut, komoditas ini dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan di berbagai wilayah di Kabupaten Cirebon yang memiliki kondisi lahan serupa.
“Tanaman ini tidak membutuhkan banyak air. Lahan yang relatif kritis pun masih bisa dimanfaatkan untuk budidaya sorgum,” ujarnya.
Deni menambahkan, selain program pengembangan bersama PT Dirgantara Indonesia, budidaya sorgum juga telah dilakukan oleh petani di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Cirebon.
Salah satunya di Kecamatan Beber, yang mendapatkan dukungan program dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Di Beber sudah ada dari program kementerian dan provinsi, produksinya juga cukup baik,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyebut Kabupaten Cirebon menjadi daerah percontohan dalam pengembangan tanaman sorgum di Jawa Barat.
Menurutnya, sorgum memiliki potensi besar karena termasuk tanaman serealia yang kaya nutrisi, tahan kekeringan, serta mampu tumbuh di lahan marginal.
“Sorgum ini tanaman multifungsi. Bijinya bisa menjadi bahan pangan, batangnya dapat dimanfaatkan untuk biomassa atau bioetanol, sedangkan daunnya bisa menjadi pakan ternak,” kata Erwan.
Ia juga menyebut tanaman tersebut relatif efisien dalam budidaya karena dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun.
Pada panen yang dilakukan di lahan seluas sekitar 1,5 hektare, produksi diperkirakan mencapai sekitar 1,5 ton benih dasar.
“Nantinya dapat dikembangkan menjadi benih pokok untuk kebutuhan tanam hingga sekitar 150 hektare lahan,” ungkap Wagub.
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung pengembangan sorgum melalui penerapan teknologi pengolahan hasil pertanian agar memberikan nilai tambah bagi petani.
“Kami ingin menginjeksi teknologi dalam pengolahan sorgum sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi bagi para petani,” katanya.
Ia menjelaskan pemanfaatan sorgum tidak hanya terbatas pada bijinya sebagai bahan pangan.
Akan tetapi juga pada batangnya yang dapat diolah menjadi biomassa atau bahan baku energi.
Selain itu, pihaknya juga menjajaki kerja sama teknologi pengolahan pangan dengan mitra dari China guna mendukung pengembangan berbagai produk turunan sorgum di Jawa Barat.
Dengan dukungan pasar, teknologi, serta pengembangan benih, sorgum diharapkan dapat menjadi salah satu komoditas baru “Sehingga bisa memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Cirebon,” harapnya.***

